4 Aktivitas Ibadah Malam Lailatul Qadar bagi Wanita yang sedang Haidh

4 Aktivitas Ibadah Malam Lailatul Qadar bagi Wanita yang sedang Haidh

Terdapat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menginformasikan bahwa beliau menghidupkan sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan dengan melakukan ibadah. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari ‘aisyah radhiallahu ‘anha, dia berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Apabila telah memasuki sepuluh malam yang terakhir, Nabi shallallahu alaihi wasallam mengencangkan sarungnya (baca: fokus beribadah dan tidak berhubungan dengan istri); menghidupkan malam dengan beribadah; dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

“Menghidupkan malam dengan beribadah” sebagaimana yang termaktub dalam hadits di atas tidak dikhususkan dengan ibadah shalat saja. Artinya seseorang bisa menghidupkan malamnya dengan berbagai bentuk ketaatan selain shalat. Demikianlah yang diterangkan para alim ulama.

سهره بالطاعة

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan,

“(Arti menghidupkan malam) adalah begadang dengan melakukan berbagai bentuk ketaatan.”

An-Nawawi rahimahullah mengatakan,

أي استغرقه بالسهر في الصلاة وغيرها

“(Menghidupkan malam artinya) mengisi waktu malam dengan begadang mengerjakan shalat atau ibadah yang lain.”

Penulis kitab ‘Aun al’Ma’bud mengatakan,

أي بالصلاة والذكر وتلاوة القرآن

“(Artinya adalah menghidupkan malam) dengan mengerjakan shalat, dzikir, dan membaca al-Quran.”

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Shalat malam adalah ibadah yang paling utama dikerjakan oleh hamba di malam Lailtaul Qadr. Itulah mengapa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang berdiri (menunaikan shalat) pada malam Lailatul Qadar dengan (penuh) keimanan dan pengharapan (pahala), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].

Namun, dikarenakan wanita yang haidh terlarang untuk mengerjakan shalat, dia bisa menghidupkan malam Lailatul Qadr dengan beberapa bentuk ketaatan yang lain seperti:

1

Membaca al-Quran dari hafalannya. Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan wanita yang haidh boleh membaca al-Quran dari hafalannya. Pendapat ini merupakan pendapat imam malik, salah satu riwayat dari imam Ahmad, dan dipilih oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, serta dikuatkan oleh asy-Syaukani. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

ليس في منع الحائض من القراءة نصوص صريحة صحيحة

“Tidak ada dalil tegas yang shahih, yang melarang wanita haidh membaca al-Quran.”

Adapun membaca al-Quran dari mushaf, maka pendapat yang kuat adalah seorang tidak diperbolehkan menyentuh al-Quran ketika dalam kondisi berhadats. Para alim ulama menerangkan seorang yang berhadats diperkenankan membaca al-Quran dari mushaf dengan menyentuhnya menggunakan benda suci yang terpisah dari mushaf seperti kain atau yang sejenis. Dia bisa membolak-balik lembaran mushaf dengan stik kecil, pensil atau yang sejenis.

2

Berdzikir, yaitu dengan membaca kalimat tasbih, tahlil, tahmid, atau dzikir yang lain. Wanita yang haidh bisa memperbanyak ucapan, ‘Subhanallah’; Alhamdulillah’; ‘Laa ilaha illallah’; ‘Allahu akbar’; ‘Subhanallah bi hamdihi’; ‘Subhanallah al-‘Azhim’; dan dzikir yang lain.

3

Beristighfar, yaitu dengan memperbanyak ucapan ‘Astaghfirullah’

4

Berdo’a. Memperbanyak do’a kepada Allah ta’ala, meminta kebaikan dunia dan akhirat kepada-Nya. Do’a adalah salah satu ibadah yang utama. Di mana Rasulullah shalllahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa do’a adalah inti ibadah. Wanita yang haidh juga bisa mengisi waktu malam dengan banyak memanjatkan do’a yang dituntunkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika bertemu de ngan Lailatul Qadr. ‘Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda kalau saya mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang saya ucapkan ketika itu? Beliau menjawab, “Panjatkanlah do’a, _‘Allahumma innaka ‘afuwwun, tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Memafkan dan senang memaafkan, maka maafkanlah diriku).” [Shahih. HR. At-Tirmidzi].

Demikianlah beberapa ibadah yang dapat dilakukan oleh wanita yang haidh agar tidak terluput dari kemuliaan Lailtaul Qadr.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *